Prodi D3 Teknik Informatika dan D4 Startika Sekolah Vokasi UNS sukses menyelenggarakan Technopreneur Academy 2026 pada Jumat (9/10/2026) di Aula FMIPA UNS. Kegiatan ini diikuti oleh 17 tim startup mahasiswa yang berkompetisi mengembangkan ide bisnis berbasis kecerdasan buatan dan teknologi drone.
D3TI — Program Studi (Prodi) D3 Teknik Informatika dan D4 Sarjana Terapan Teknologi Informasi dan Kecerdasan Artifisial (Startika), Sekolah Vokasi (SV) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, sukses menyelenggarakan Technopreneur Academy 2026 pada Jumat (9/10/2026). Mengusung tema “AI-Powered Technopreneurship: Turning Student Ideas into Successful Startups”, kegiatan tahunan ini berlangsung di Aula Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNS pada Jumat (9/10/2026). Kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran, kompetisi, dan pengembangan ide bisnis digital bagi Mahasiswa, khususnya dalam membangun startup berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan teknologi drone.
Technopreneur Academy 2026 diikuti oleh 17 tim startup mahasiswa yang berkompetisi untuk mengembangkan ide bisnis inovatif. Dari seluruh peserta, terpilih enam tim finalis, yaitu KostKuy dari Tim Koskos Wadesta, Lowget Bruncher dari Tim Sakumakan, Motorun dari Tim Motorun Core Team, Sampahku dari Tim Balik Bumi, Parkly AI dari Tim Opportunity, dan Relife dari Tim Relife. Keenam tim tersebut mengikuti proses kurasi oleh juri dan narasumber untuk memperoleh masukan serta memperkuat potensi pengembangan bisnis masing-masing.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dari industri teknologi dan bisnis digital, yakni Awang Dhewangga, Business and Community Lead Telkom AI Connect Yogyakarta; Fahdy Nashatya, S.T., M.Eng., Head of Avionics Design and Analysis Engineer PT Frogs Indonesia; serta RRP. Fendy Nugroho, M.Kom., CEO Subadjaya Group. Para narasumber berbagi pengalaman, wawasan, dan strategi dalam merintis serta mengembangkan startup, termasuk pemanfaatan AI sebagai bagian inti produk bisnis dan pengembangan peluang usaha di sektor teknologi drone.



Penanggung jawab Technopreneur Academy 2026, Yudho Yudhanto, S.Kom., M.Kom., menyampaikan bahwa AI dan drone memiliki prospek yang menjanjikan untuk dikembangkan menjadi bisnis berbasis teknologi. Menurutnya, AI kini tidak lagi sekadar menjadi alat bantu, tetapi dapat menjadi bagian utama dari produk dan proses produksi sebuah startup. Sementara itu, teknologi drone juga menawarkan peluang usaha yang potensial karena masih terdapat ruang pengembangan di berbagai bidang yang belum banyak digarap oleh pelaku bisnis.
Pada sesi pertama, Awang Dhewangga membahas bekal penting yang perlu dimiliki mahasiswa untuk menjadi wirausahawan di bidang teknologi informasi. Ia juga menjelaskan pemahaman mengenai startup dan pentingnya membangun bisnis dengan fondasi yang sehat. Menurutnya, keberhasilan startup tidak cukup diukur dari popularitas atau pencapaian semu, tetapi harus ditopang oleh model bisnis yang berkelanjutan dan tata kelola yang baik. Sesi ini juga dilengkapi dengan simulasi startup bagi keenam tim finalis untuk mengasah kemampuan mereka dalam mengembangkan dan mempresentasikan gagasan bisnis.
Sementara itu, Fahdy Nashatya dari PT Frogs Indonesia memaparkan peluang dan tantangan dalam merintis bisnis berbasis teknologi drone. Ia menekankan pentingnya penguasaan teknologi terkini, pemahaman terhadap kebutuhan pasar, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Melalui materi tersebut, mahasiswa diharapkan mampu melihat teknologi drone tidak hanya sebagai inovasi teknis, tetapi juga sebagai peluang untuk menciptakan produk dan layanan yang memiliki nilai ekonomi.
Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan lebih dari 250 mahasiswa dan anggota komunitas Emailkomp yang mengikuti kegiatan tersebut. Para peserta berdiskusi mengenai peluang karier di industri teknologi, perbedaan jalur karier sebagai profesional teknologi informasi dan pengusaha digital, serta tantangan dalam merealisasikan ide bisnis menjadi produk yang dapat dipasarkan. Salah satu poin penting yang mengemuka dalam diskusi adalah bahwa AI dapat membantu menemukan dan mengembangkan ide bisnis dengan lebih mudah dan murah, tetapi pelaksanaannya tetap membutuhkan investasi, waktu, sumber daya, serta keberanian untuk menghadapi risiko.
Kepala Prodi D3 Teknik Informatika sekaligus Kepala Prodi Startika SV UNS, Eko Harry Pratisto, S.T., M.Info.Tech., Ph.D., dalam sambutannya memotivasi mahasiswa agar tidak berhenti pada tahap menggagas ide, tetapi berani mengambil langkah nyata untuk membangun bisnis. Ia menegaskan bahwa perjalanan menjadi technopreneur membutuhkan proses panjang, konsistensi, dan semangat pantang menyerah.

“Pengalaman langsung dari para praktisi industri yang dibagikan dalam kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menerapkan prinsip-prinsip technopreneurship secara tepat,” terang Eko Harry.
Melalui Technopreneur Academy, D3 Teknik Informatika dan Startika SV UNS berkomitmen untuk terus mendorong lahirnya generasi technopreneur yang kreatif, adaptif, dan berdaya saing global. Kegiatan ini diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan mahasiswa dengan praktisi dan pelaku startup di industri, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan ide-ide bisnis berbasis teknologi yang inovatif dan berkelanjutan.

“Technopreneur Academy akan terus kami selenggarakan setiap tahun untuk menjembatani mahasiswa yang ingin menjadi pebisnis startup dengan para pelaku startup di industri. Melalui kompetisi dan pembelajaran berbasis pengalaman nyata, kami berharap mahasiswa dapat mengembangkan ide bisnis inovatif dan mempersiapkan diri menjadi technopreneur yang tangguh,” pungkas Eko Harry,” pungkas Eko Harry.

Leave a Reply